Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/inforing/public_html/plugins/system/marcosinterceptor/marcosinterceptor.php on line 19

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/inforing/public_html/plugins/system/marcosinterceptor/marcosinterceptor.php on line 38
inforingkas

Dalam Momen Memeringati Hari Anti Korupsi Sedunia

Ringkas, Surabaya,Indonesia memperingati hari anti korupsi sedunia pada harisenin (9/12) Dari Momen inilah kedahsyatan media tampak.Mafia hukum yang selama ini cenderung disikapi permisif, bahkan oleh penegak hukum sendiri, tiba-tiba menjadi persoalan nyinyir. Banyak kalangan (terutama praktisi, penegak dan akademisi hukum) tiba-tiba saja menjadi seperti pahlawan

Padahal, selama ini mereka cenderung melihat kenyataan yang sudah begitu menyendawan di sekitarnya dengan permisif. Dengan kedahsyatan transformasinya (dalam konteks ini pantas dipelihara), media telah menggeser kenyataan yang semula dianggap ‘biasa-biasa saja’, ‘tahu sama tahu’ ke dalam sebuah gambaran dan citra baru tentang mafia hukum, yang hina, yang nyinyir, yang harus ditumpaskan.

Inilah kekuatan resonansi media. Melalui resonansi, apapun konteks sesungguhnya, satu media mempunyai kemampuan untuk terbang jauh meninggalkan konteks yang terbatas itu untuk mendapatkan yang baru. Kita semua ingatbermula dari fenomena Cicak vs Buaya, wacana mafia hukum ini mulai menyeruak. Karena kekuatan resonansinya, ia terbang dari konteks yang terbatas tersebut, dan terus berusaha menemukan fenomena-fenomenayang terkait di tempat lain. Resonansi tersebut kemudian bukan hanya sebatas resonansi wilayah, dari Jakarta ke tempat lain.

Tapi juga resonansi wacana, dari yang semula melibatkan oknum dan institusional, untuk menemukan kenyataan yang lebih baru dan mencengangkan. Yakni, kenyataan yang melibatkan sebuah jaringan mafia yang tak terbatas wilayahnya, layaknya lingkaran setan, yang bahkan melibatkan wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terduga. Maka menggelindinglah bola salju kasus Bank Century, kasus Antasari, yayasan-yayasan di belakang Cikeas, hingga fasilitas hotel berbintang lima di penjara Pondok Bambu.

Lebih dari itu adalah resonansi makna seperti apa yang sudah diuraikan di atas. Kriminalitas hukum juga mengalami resonansi makna ke Moraliatas hukum, etika hukum atau bahkan horor dunia hukum yang membuat berbagai pihak (terutama praktisi dan penegak hukum sendiri) dicekam kecemasan sekaligus kesiagaan, yang menjadi pecundang tapi sekaligus berusaha menjadi pahlawan.

Sebuah resonansi, yang dalam konteks ini mesti mendapat sambutan gayung. Sebuah kerja resonansi media yang melahirkan hommelette mafia hukum. Hommelette adalah sebuah metafora, sebagaimana dipakai psikoanalis Prancis, Jacques Lacan. Hommelette, telur busuk yang pecah dan isinya yang nyinyir muncrat ke segala penjuru, ke segala arah, menerjang apa saja yang dalam wilayah jangkauan nya diterjang dan menimbulkan bau nyinyir dan amis.

Fenomena mafia hukum yang telah menjadi ‘salah kaprah’ puluhan tahun, yang telah menjadi telur busuk, tapi karena kulitnya belum terkelupas, maka bau busuknya belum menyebar dan tersimpan sendiri, tiba-tiba tertimpuk sebuah batu (resonansi media) yang membuatnya jadi hommelette.

Coverage terhadap kasus yang baru-baru ini Wisma Atlet seperti halnya Cicak vs Buaya adalah timpukan, lalu pecah dan terkelupasnya kulit itu. Hingga bau busuknya, jaringan-jaringan kasus yang terkait muncrat berhamburan dan berpendar ke segala penjuru. Menciprati apa saja yang ada di wilayah jangkauannya, kasus-kasus lain, wacana-wacana lain, tempat-tempat lain sehingga juga menimbulkan bau nyinyir.

Dalam hommelette, bau nyinyir hasil cipratan ini menarik penciuman untuk menemukan bau nyinyir yang lain demikian seterusnya. Sehingga hambur-menghambur dan ciprat menciprat ini menjadi mata rantai hommelette, yang akan menyentuh semua wilayah yang menyimpan telur busuk. Karena tak ada yang mau diciprati, tak ada yang mau disalahkan, maka ia akan menciprati yang lain. Satu sumber membuka telor busuk sumber yang lain, demikian seterusnya, sehingga jaringan telor busuk terkelupas satu persatu (lihat kasus-kasus di daerah maupun di pusat sendiri banyak yang menyeret bejabat-bejabat penting Negara ).

Inilah drama hommelette mafia hukum yang ketika mendapat coverage dan kekuatan citra dari media, ia menjadi fenomena dan diskursus yang mau tidak mau harus diperhatikan dan dianggap penting bahkan oleh orang yang biasa melakukan sekalipun. Apa yang kita harapkan dari kekutan resonansi media dan drama hommelette ini tidak sekadar menjadi fragmen-fragmen yang berkejaran dan berpacu dengan kecepatan tanpa menyisakan satu renungan kontemplatif.

Dan yang lebih kita harapkan adalah resonansi dan hommelette mafia hukum ini terus akan merambat dan menciprat. Hingga tidak lagi sekadar menyentuh wilayah kepolisian, penjara dan KPK. Tidak sekadar menapaki wacana fasilitas mewah di bui. Tidak sekadar pada wilayah kriminalisasi terhadap oknum-oknum tertentu.

Rasanya masih banyak telur busuk yang tersimpan di wilayah-wilayah selain hukum dan peradilan dan tidak menjadi rahasia umum lagi serta salah kaprah dunia sosial politik. Berbagai fenomena jual beli jabatan di lingkungan penegak hukum, pelecehan kualitas dan sistem rekrutmen, jaringan-jaringan proyek dalam dunia kepolisian dan peradilan selama ini hanya mendapat coverage yang fragmentatif sehingga tidak menukik pada akar persoalan, dan kalaupun menimpuk telur busuk tidak sampai membuat kulitnya terkelupas.

Hommelette mafia hukum seperti sekarang ini adalah momen, titik pijak dan durasi yang tepat untuk terus melakukan resonansi bagi media dengan tidak melupakan gayung sambut komponen-komponen lain. Apa yang kita harapkan adalah terjadinya megahommelette dalam dunia hukum kita.

Jika media tidak melanjutkan timpukan pertama ini dengan timpukan selanjutnya, serta komponen lain (terutama politik dan penegak hukum) tidak menangkap resonansi itu dan membiaskannya secara lebih luas dengan cermin-cermin integritas dan konstruktifisme, maka tinggal menunggu waktu benua hukum dan keadilan kita tenggelam punah oleh banjir bandang telur busuk. Jika sudah demikian, bangsa mana yang sanggup bertahan ketika pondasi sistemnya (hukum) telah runtuh.

EKONOMI

BISNIS LAUNDRY KILOAN

Cukup banyak yang tertarik dengan Bisnis Laundry Kiloan saat ini, mungkin bisnis plan untuk bisnis laundry kecil-kecilan ini bisa dijadikan referensi tambahan..

Bisnis laundry merupakan bisnis yang mengandalkan jasa. Sehingga sangat penting untuk berorientasi pada kepuasan pelanggan. Mendapatkan pelanggan yang loyal merupakan suatu keberhasilan bagi bisnis ini .

Baca selanjutnya...

RAKORNAS-KWRI

BERITA TABLOID